Kamis, 05 April 2012

Menghapus Satu Episode Dirinya

Hidupku telah melewati ribuan kisah
Belajar memahami antar manusia yang serakah
Mengerti akan keadaan dan ketiadaan yang mengharuskan hidup dalam keprihatinan
Gejolak badai silih berganti menyapa dengan mesra dan tanpa ragu
Tapi masih ada sedikit tekad melekat dalam diri wanita yang kini mulai dewasa

Menapaki jalan dalam kebisingan dan hiruk pikuk jagad raya
Sejenak aku mampir di gubuk tua yang beralas tanah becek
berpayung langit dengan tebaran cahayanya yang megah

Aku senderkan tubuh mungilku di batu besar
tempat mereka memuja dewanya dan menghadirkan sesajen kepercayaan penduduk pribumi
Sunyi mencekam,,disinilah ku putar kembali setiap episode lakon hidupku

Kembali pada satu masa yang telah lalu
Ada Dia yang pernah menjajah hati dan pikiranku
Merampas seluruh cinta dan tak mampu terbagi
Mendongengkan kisah menghanyutkan membawa aku mengarungi samudera tak bertepi
Hanya ada aku dan dia di pulau kecil tak bertuan ini
Membangun mahligai kebahagiaan seakan abadi
Menolak semua bisikan ketidak pastian hidup antara aku dan dia

Sudah seabad rasanya mengarungi sungai kerinduan dua insan yang haus kebersamaan
Tak pernah ragu
Menikmati hari-hari penuh cinta
Terlalu mabuk dibuai kemesraan tak bermuara
Lelap dalam kekosongan jiwa

Dan aku terbangun menapaki kesadaran layaknya manusia
kini disisiku didampingi angin yang mulai suram
aku menggumam dengan layu "aku hidup tanpa Dia lagi"
Tuhan telah mengambilnya karena iri dengan kemesraan kami
Dalam rentang dunia fana dan kerajaan langit
Terendap kesedihan mendalam
Teriring salam rinduku

Ku kirimkan lewat merpati yang setia mengantarkan pesan-pesan syahdu untuk Dia
Kehilangan melilit kuat meremukkan kepingan tulang-tulangku
Di tepi pulau ini ku bersimpuh
Menatap jauh ke langit biru
Dan ku bisikkan pada Tuhanku
Kurelakan engkau mengambil dia dari aku
Kutitipkan cintaku dengan utuh
Dengarlah keluhku ini
Jangan pernah kau pedulikan derai airmataku akan kerinduan untuknya

Ku lempar benih-benih kesedihanku yang menjadi candu
Biarlah ku telusuri jejak yang tersisa meski tertatih
dan harus jatuh bangun
dan ijinkan aku menghapus satu episode dirinya

Senandung pilu

saat aku sendiri dalam sepiku
ku putar lagu kenangan tentang kita
mengingat sekilas kebersamaan yang lalu
sungguh menusuk dalam hati
membuka luka yang telah lama aku kubur dalam
perih teriris akan perpisahan kita

namamu yang terukir indah lewat kaligrafi yang sampai kini masih terpatri
sekuat mungkin aku mencoba melupakan kisah yang aku lalui bersamamu
mencoba memaafkan seberkas salah
bukan penyesalan yang ada tapi pengharapan roda waktu yang menjemputku
mengantar ke gerbang hidupmu
teriring tetesan airmataku mengingatmu
dalam pilu tanpa hadirmu disisiku kini

kau jauh dari mataku
dan aku tak mampu menjangkau bayangmu meski hanya tuk sekejap
aku tak pernah mampu sedikitpun membenci
mungkin kau kini telah berdua dengan yang lain
dan aku tak mampu meninggalkan masa laluku

terdiam tak kuasa lagi melangkah
apakah kau mampu mendengar
desahku yang tak mampu meninggalkanmu
coba tengoklah aku disini yang bernyanyi senandung pilu
terus mengulang lirik perih karena kau tak pernah kembali

Rindu Tertahan,Rindu Terlarang

Purnama diatas rona gelap muramnya hari
Menjadi saksi gelisah jiwa seorang diri
Menghangatkan tubuh menggigil kedinginan lewat balutan sang purnama
Mendekap dalam belaian bayu

Dengan setia menusuk tulangku
Berbisik lembut dalam sentuhan pori-pori sekujur tubuh
"Sayang",,,, terdengar merdu menyapaku
suara yang tak asing ditelinga ini
Menyapa manja dan menggoda

Sayang,,,,masih ingatkah kau dengan aku??
Sedikit mengganggu saraf-saraf otakku
Aku balas dengan perbincangan hangat
Mengikuti irama rerumputan liar berselimut malam
Tentu saja aku ingat kamu'
Tentu saja aku tak pernah bisa lupakanmu
Bahkan aku tak pernah mampu lalui iringan awan di langit biru tanpamu

Perlahan masuklah ke dalam kalbuku
Berjalanlah nikmati pemandangan yang ada
Liatlah pegunungan bertumpukkan rinduku padamu
Yang karena waktu aku harus tahan
Yang karena jarak aku harus simpan
Yang karena ruang aku harus abadikan
Namun masih ada penghiburan rindu menanti kehadiranmu

Aku selalu bernyanyi dengan satu syair
"Rindu tertahan, rindu terlarang"
Sampai kau datang meminjamkan bahumu untuk melepas kerinduanku

Rapuh

Sesaat terpisah oleh realita hidup yang tak mampu kau tembus
Dalam gagahnya ragamu
Bayangmu masih kuat mengikatku
Sedetikpun tak mampu lepas oleh ingatanku akan kau

Naluri mencoba berbohong tak pernah merinduimu
Berpura-pura tegar meski tak mampu jumpa
Kadang aku putus asa untuk menjalani sisa hidup ini

Kau memang cinta pertama dan terakhirku
Lelah otakku penuh akan potretmu
Semampuku mencoba menghapusnya sedikit saja
Agar ku mampu membuka hari

Sejenak menghirup aroma tubuhmu
Memberi ruang pada sosok lain mengisi hariku
Namun tak pernah mampu
Menggeser cerita sesaat saja

Kini aku terlalu rapuh
Lumpuh seperti pesakitan
Bahkan rasa itu telah melebur dalam benam sakit tanpamu
Sadari kita sungguh berbeda tak mampu bersatu dalam beda
Melintasi hidup tanpamu diatas rapuhku
Meski ku sangat lelah

Penantian Di Ujung Sepi

Dikala malam makin kelam
hati tertikam kerinduan mendalam
Pada gadis jelita nan jauh di sana
Dalam balutan emosi cinta tiada tara...
sering bayangmu hadir memeluk erat tubuhku
enggan melepaskan meski sesaat

Lagu pilu bersenandung mesra mengurai kesendirian yang haus akan hadirmu
Terlukiskan lewat untaian kata
Ku terlena dalam pelukan
sering bayangmu menemaniku menikmati sunyinya malam
yang aku habiskan dengan secangkir kopi
dan asap rokok yang mengepul membentuk senyum manis bibirmu

Keabadian

mengiringi gerimis air mata suci
nan membasahi lembah pipi sang gadis
berbisik kata-kata teruntuk pujaan hatinya
menyampaikan lewat rantai gerbong pesan pada kekasih di ujung jalan
halus menyentuh nurani manusia

setetes sedih dan lara terangkai memikat
ketakutan membayang hadirkan perpisahan antara kita
sepenggal kata kehilangan tak mampu lukiskan hamparan bahagia membingkai
curahan mendalam bercakap antar hati
berusaha menguatkan membangun tangga menuju puncak keabadian

andai ku tak mampu tanpamu
akan kuabadikan dirimu tanpa nafas
mengubur dalam nurani terdalam
tersimpan segudang kisah dan kenangan tiada tanding
tak akan pernah melupakan
apalagi terbesit benci

tak seorangpun mampu miliki hati dan cintamu
meski ragamu kini tetap kokoh disana
kau hanyalah jasad tanpa ruh
segenap dirimu tlah ku miliki tersimpan dalam keabadian

Gundah Gulana

Malam terlalu larut bagi sepasang mata yang kini masih terjaga
Mencari-cari di bayang kegelapan
Harap ada secercah dian menerangiku, setia menemani mengikuti jejak kekasih

Berjalan tanpa lelah ku sandarkan raga rehat sejenak
Di sini, di tengah lembah aku telusuri demi menemukan kekasihku yang telah lama pergi
Kaki yang seolah tak mampu lagi berdiri tetap tegak menopangku
kepergianmu yang membuatku gundah gulana
melewati hari-hari tanpamu

dan aku masih terus menunggumu dengan segenap cintaku
rasa ini telah mati hanya kau yang mampu meniupkan kehidupan
cintamu melumpuhkan aku
kegelisahan akan tak mampu milikimu
memikirkan kau nan jauh disana

Mungkinkah Dia yang Aku Tunggu Di Pematang Usia Senja

Merdu irama pagi ini
Tak sadar aku terbangun dari altar mimpi
Dengan sayup bola mata ini mulai memutar lensa bayang semu
Mulai ku hitung tanpa tertinggal satupun angka perlambang usia senjaku

Ku tengok seisi ruangan mencoba mencari hati yang masih tetap tinggal
di tubuh yang mulai menyongsong senja tapi masih tanpa arti
Sebentar saja petir kencang menyambar ingatanku
Kilat itu menghadirkan bayang perempuan dengan senyum tenang
Dengan lembut membelai pipiku dan melayangkan kecupan di kening begitu mesra

Dia bukan sosok yang selama ini ku bangunkan istana mimpi tentang seorang wanita
Sungguh sangat berbeda, paras yang tak nampak jelita
Namun damai ketika ku mulai mencuri pandangnya
Kenyamanan bersanding tak tertandingi oleh apapun, siapapun dan sampai kapanpun

Aku hanya mampu mengucap ribuan kata sayang dan luapan rindu yang menderu
Mungkinkah dia yang aku tunggu selama ini??
Sangat jelas hati kecilku berisyarat bahwa benar dia yang ku tunggu
Dan kini dia ada di pelukku

cinta salah arah

andai hati ini seperti kompas
yang mampu menunjukkan arah
tentu saja aku tak akan tersesat
kini aku terbelunggu
di persimpangan hati
menemui cinta setinggi himalaya yang bukan aku ingin sesungguhnya

seandainya langit mampu menghujani hatiku yang gersang
dan bah datang membanjiri
aku kan berenang melawan arus
mencari cintaku yang hanyut
bukan kau kini disampingku
tapi dia yang membungkus hatiku

sandiwara kehidupan

Sejenak melepas pandang nan jauh di ujung pantai
Menebak keresahan tertutupi ombak
Dalam luas bentangan tak bertepi
Mengoyak ketegaran sang karang dalam badai
Terlihat goyang di tengah samudra

Kapal pelayaran bermuatan ribuan kepala
Yang sedang menyusuri desir angin pantai menuju pulau di penghujung
Menggenggam harap menapaki tangga hidup

Di bawah sinar bulan purnama di atas kapal
Ku nikmati aksi aktor ternama
Berlaga di atas panggung megah dalam sinar redup menghangatkan ruang
Memberi kesan romantis bagi sepasang sejoli dimabuk cinta
Tak sadar terlena oleh sebuah sandiwara kehidupan

Kita terlalu pandai untuk merayu
Bahkan pujian yang kadang hanya bualan
Menyenangkan bagi telinga yang mampu menangkap bisingnya kata-kata
Lupa akan jeritan hati yang kini tenggelam di dasar samudra
Sedikitpun tak nampak riaknya di permukaan

Canda dan riang yang disajikan oleh mereka pemeran opera di negeri tercinta ini
Melenakan penonton akan adanya sebuah sandiwara
yang sesungguhnya ada kesedihan, kesepian, kemelaratan, dan cacian hidup

Mimpi Di Kota Tua

Minggu yang cerah menyambut hariku dengan senyum terindah
Berjalan menyusuri pesisiran kota tua
tertawa mewarnai kerumunan sejuta kepala manusia nan tengah bahagia
menghabiskan sekian detik hidupnya di kota tua
Sekedar bernostalgia

Ada kisah percintaan galih dan ratna
Ada pula sejarah perjuangan generasi tua
Bahkan goresan pengabadian cerita klasik masih sungguh mengagumkan
Tak terlupakan fosil pewayangan warisan budaya negeri kita
Melebur indah di kota tua

Kota tua,,,
Tetap megah diantara mewahnya gedung yang ada
Ku lepas pikirku mengarungi mimpi menuju era 40-an di kota tua ini

Sang Idola

keabadian tak pernah jadi nyata
datang sebagai ilusi
menebar wewangian disekeliling aroma taman hati
tersenyum indah menyambut hadir jiwamu
tiada lagi evolusi

menapak di tenang rona senja
demi sang idola
tanpa sebuah akhir terbayang
hanya memuja lewat kata yang sudah habis kau renggut

sebuah kesungguhan memujamu
dan kejujuran yang melebur untuk kau impiku
janji suci terucap tulus keyakinan milikimu
kesetiaan bertahan melewati reruntuhan tajam rintangan
membawaku menuju keabadian sinar pesonamu

Sajak di Klab Malam

Sajak-sajak sang pujangga mulai bergeming layaknya mantra
Melengkapi pesta setan-setan bergaya konglomerat
Melenggangkan badannya dalam alunan melodi melayu

Gemerlap lampu diskotik tertuju pada penari erotis yang sedang asyik beraksi
Gemericik arak mencaci kepingan gelas
Berlari mengejar jemari para pelacur-pelacur klab malam
Menawarkan cinta semalam pada mereka pemberi isyarat kekaguman
Membubuhkan senyum palsu bagi pecinta perempuan

Doa Lewat Syair Puisi

Satukan, hati dan pikiran di keheningan ini
Menikmati desir angin mendendangkan irama kedamaian
Menghembuskan kesejukan dalam panas dunia
Selintas pengharapan tertuju pada pencipta alam
Menggumam rentetan kata pengaduan
Atas setiap kesedihan yang pernah singgah
Menuntut keceriaan dalam sepinya hidup yang kau hadirkan

Sesaat mataku terpejam dengan segenap ketulusan
Tuhan jemput aku menuju surga firdausmu
agar ku mampu mensyukuri butiran nikmat tiada tara
Hanya melantunkan pujian terindah atas kebesaranmu
Lewat nada-nada dzikir paling merdu sejagad

Harap aku seperti malaikatmu
Mampu menolong kawan-kawanku yang kini tengah gelisah
Menuntunnya dalam terang menyeberangi jembatan dunia fana
Mengurangi sedikit beban yang membungkukkan punggung mereka
Jika ku mampu akan ku antar mereka mengelilingi langit punggawa dunia
Sungguh aku tak harapkan imbalan berlebih

Selintas senyum tulus merekah indah dari bibir mereka
Cukup sudah membuatku lebih berarti
Andai ku mampu aku tak ingin terjaga dari doa yang ku sampaikan lewat syair puisi
Dari penggembala pujangga kehidupan

galau di mendung pagi

mendengar kicau perkutut pagi
mengusik ketenangan dalam balut selimut
menabuh gendang telinga membangunkan tuannya

ku balas senyum terindah menyambut pagi
ku ucapkan "hai" dengan suara serak pada sang kekasih
membangunkan lewat hangat kecupku
bersambut peluk erat darinya
enggan lepas, menggenggam kasih dalam dekapnya
bercengkerama merangkai melodi kasih tanpa batas

perlahan ku dengarkan bisik hati yang sedang galau
galau dalam pagi berbalut mendung suram
bimbang antara kata hatiku dan hatimu
yang tak pernah bertemu dan mengikat jadi satu

Noktah kejujuran

Kejujuran tak mudah ku ungkapkan

Jika aku jujur aku tak sanggup hadapi kenyataan

Dengan kejujuran semua dapat hancur seketika

Hanya beban batin yang ada jika kejujuran tak terungkap

Tapi apa daya,,,,

Aku tak sanggup

Aku tak siap

Aku takut akan ada penyesalan

Aku bimbang tak jujur

Aku takut semua akan hancur lebur

Tak tersisa setitik harapan

Noktah Kejujuran
Tak akan ada penantian

Tak akan ada persahabatan

Walau mulut tak berkata

Tapi hati bicara

Hanya ada rasa yang tak bisa diraba

Kadang kejujuran membawa kesedihan

Tapi kini semua berlalu dan akan terus seperti ini

Biar saja hanya aku yang tahu

Hanya aku yang merasa

Hanya aku yang tersiksa ku ingin semua akan seperti biasa

Ku tak ingin kau tahu

Biarkan semua ini kekal abadi

Biarkan semua terbalik karena asa

Biar semua tertutupi oleh rasa

Seperti goresan tinta pada kertas ini

Selembar kertas yang tak berdaya

Membuat noktah di lembar yang terbalik

Akankah selamanya?????????

Pasti waktu akan bicara

Tembang Cinta

Dalam diam jiwaku melayang

Anganku terbang terbawa lamunan

Setiap waktu terlintas bayangmu

Inginku bersamamu…

Selalu dipelukmu

Dalam hangat dekapmu

Dan lembut belaian jemarimu

Manisnya kecup bibirmu

Merajut rantai kasih tak berujung

Merangkai bunga kehidupan

Mengukir rasa di hati

Melantunkan tembang cinta

Leburkan dua jiwa dalam satu rasa

Membangun mahligai cinta

Catatan Seorang Teman

Buku coklat muda di atas tumpukan baju itu terlihat kusam
Mungkin terlalu lama terlantar,warnanya memudar
Ataukah sengaja dibiarkan lapuk dimakan usia

Ada sesorang yang mengetok pintu hatiku
Merangsang sistem sarafku
Menuntun telapak ini menyusuri lantai kayu
Mengayunkan jari-jariku memegangi buku itu
Dengan iba aku sedekahkan sehirup nafasku mengusir lapisan debu

Lembar per lembar aku buka
mengeja rantai kata di atas goresan tinta hitam yang mulai padam
Kuberanjak melanjutkan menyusuri isi catatan ini di pojok kamar
Malam semakin larut
Penasaran yang terlalu dalam mendorong aku tak ingin henti

Kunyalakan dian di depanku
Sinar redupnya menghangatkan suasana malam ini
Catatan ini milik seorang teman
Dimana tertorehkan berbagai cerita persahabatan
Berbagi kasih, bersama dalam canda tawa

Setiap lembar yang aku buka
aku nikmati nampaklah bayangan keceriaan masa lalu
bak film di layar lebar
Ku lempar lagi senyum,,,
malu mengenang tingkah kenalan masa muda
Kini aku bertanya dimana keberadaanmu teman???

Lembah Nista

Ayunan langkah pertama kaki pincang ini
Mulai mendaki lembah curam
Berbekal kerisauan di pundak
Memikul cemas akan penghormatan besar

Kini aku hanya bisa diam
Dalam diamku lantang teriakan penyesalan
Dari apa yang telah aku lakukan
Dari apa yang telah aku pikirkan
Dari apa yang telah aku miliki dalam genggam
Dari apa yang terangkai menjadi dendam

Aku hanya mampu diam dalam rusuh akhir zaman
Diamku tak berarti bisu
Diamku bukanlah permohonan maaf pada mereka yang tersakiti
Diamku hanyalah sebaris doa
Atas pengampunan dan peluruhan batuan khilaf
Penyucian bak upacara keraton bagi sang puteri
Basah oleh siraman kembang tujuh rupa
Harum semerbak menghapus noda yang terpancar dari lembah nista
Diamku merupakan jawab bagi mereka

Bualan Sang Penyair

Satu per satu kata-kata tak bermakna terangkai indah
Menciptakan pesan manis bagi jutaan manusia
Yang perlahan terlena oleh bualan sang penyair
terdengar merdu di telinga pendengar setia
Mengantar ke gerbang tirai impian

Desahan nafas yang mengiring setiap bait syair
Mengurai kekaguman dari para pemuja
Yang rela memberikan belajahan jiwanya tanpa bayaran sepeserpun
bahkan bersedia memikul keranda sang penyair
lewat tandu teristimewa ke lembah di penghujung surga

Penyair itu bukan pembual keyakinan yang membatu di benak mereka
Hey,,tapi kau harus ingat "pembual itu belum tentu penyair" ucap sang penyair
Iringan syair yang ku dendangkan hanya rayuan
Aku terlalu pandai membohongi kalian
Seolah-olah aku mampu mendengar isi hatimu
Dan menorehkannya pada selembar kertas dengan tinta emasku
Menjadi ungkapan terpendam
Padahal itu bualanku saja

Nyanyian Untuk Nusantara

Ku dendangkan nada-nada merdu tiada henti
dengan irama musik pengiring kebesaran para raja Majapahit
Lirik sesederhana tembang mocopat
Bahkan penciptanya pun pujangga ternama dari negeri seberang
Nyanyian ini teruntuk Nusantara
yang kini musnah budaya dan moral bangsa
akibat ulah pembangunan atas nama reformasi
tahta nusantara dijajah para pejabat yang apatis

hey para pemuda masihkah ada perbincangan tentang kemerdekaan
ingatkah selintas saja tentang sang proklamator
satu penggal suaranya yang selalu terngiang ditelingaku yg mulai tuli
"aku mencintaiku keluargaku namun aku lebih mencintai kepentingan negaraku"
pernahkah kalian sebentar saja menengok opera tahun 40-an
ribuan tombak bambu di tangan pemuda pemberani
berjuang demi merebut satu kata "kemerdekaan" persembahan untuk Indonesia
banjir darah mengaliri lautan di bawah jembatan
berpondasi penggalan jutaan kepala pahlawan
Nyanyian ini akan terdengar merdu buat mantan pejuang
Dimana detik-detik tutup usia mereka sisihkan bernostalgia
memamerkan senyum dari wajah keriput yang ompong
dengan lantang mereka masih meneriakkan merdeka buat Indonesia Raya

sayang,,,kawan berlayar

Aku masih punya sejuta cerita untukku bagi denganmu kawan
itu kalau kamu mau dan bersedia menjadi pendengar setiaku
tanpa suara dan hanya kekakuan tubuhmu menjadi saksi bisu
liat saja nyiur itu,
meski bergoyang diterpa alunan badai kencang
dan terpaan amurka alam
tak pernah goyah dan tetap setia disitu

Semoga kau tetap terjaga
menemaniku perang dengan gesitnya ombak kehidupan
mari berlayar di atas kapal siar bernahkoda cinta ini
dan kita coba lepas kail mata ini di penghujung pulau yang indah
disanalah sayang kita akan berlabuh
memadu kasih tanpa hamparan

Pesan Tuhan

hujan gerimis pagi ini sungguh berbeda
entah kekuatan dari penguasa alam yang memaksa aku berpikir
aku nikmati saja pemandangan yang langka ini
lonceng berdentum dari rentetan tetes hujan
berpayung mendung menampakkan kesuraman
tapi tenang,,Tuhan kan pandai lagipula dia maha kaya
masih ada pelangi ucapku
merah,jingga,kuning,hijau,biru,nila dan ungggu
warna-warna indah yang Dia hadirkan menghibur langit yang habis menangis

tak cukup sampai disini
coba sebentar kau tundukkan kepalamu
yang selama ini kau balut dengan keangkuhan
bumi yang tersenyum simpul atas tangisan langit
dan dengarlah ada lantunan tasbih
dari kawan binatang-binatang dan rerumputan yang bergoyang sepanjang penjuru alam
mereka tampak menengadahkan tangan atas kuasa Rajamu
pasrahkan atas apa yang mereka punya
dan akan kembali pada-Nya

kawan,,,dengarlah sejenak ada pesan dari Tuhan
hiduplah dalam kesederhaan
meski aku terlalu kaya dan tak pernah takut berbagi denganmu
teruslah berusaha semampumu
jalani dan raih dimana pencerahan itu mampu kau genggam
dan hanya kedamaian yang kau dapat
lalu kembalilah padaku dan sandarkan kerapuhanmu di pangkuanku

Hamparan Kesucian dari Gadis Kecilku

hening nuansa tercipta sebagai latar
memutari aku dan gadis kecilku
Gadis itu menjelma layaknya peri kecil yang Tuhan kirimkan melengkapi duniaku
Sebuah rasa mati dan tanpa Kata
kini berubah seiring kehadiran gadis kecilku
Untaian cinta melepaskanku dari kepenatan akan terpaan kesepian yang terlalu curam
mengisi penuh ruang hati tanpa batas
menggantikan setiap episode di bawah alam sadar

Tuhan,,andai aku meminta dan kau pasti memberikan
satu hal yang aku pinta jangan pernah kau ambil gadis kecilku
biarkan aku dan dia tinggal dalam keabadian yang suci dan penuh cintamu
beriring nada-nada indah pujaanku tentang dirinya tiada henti
melukis pagi dengan senyum manja
dan akan kuraih genggam tanggannya berdiri,berlari melangkah menuju surgamu
mengawali hari-hari terindahku
kecupan manis dikeningnya tak kan pernah sirna
menerangi setiap penjuru dunia

Diam Penuh Harap

terdiam, tersipu malu
saat jumpa dengan belahan jiwa yang lama terpisah
terasa kaku lidah ini menarikan kata-kata sapa
gemetar mengucap kangen terpendam yang kini sudah beku
teruntuk sosok lelaki yang kini ada di depanku
yang aku sendiri hampir lupa bagaimana rupanya

mantan kekasih yang kini datang dengan senyuman
mencoba menuntun aku kembali menapaki
untaian kisah klasik di masa silam
masa-masa tiada hari tanpa hadirnya

perlahan aku arahkan pikiran ini untuk mengingatnya
saat dia memelukku dikala aku rapuh
saat ku melepas keletihan di pangkuannya
dengan hati dan kasihnya menatih aku menuju hidup yang lebih bermakna

arti kehadiran sesosok manusia tak tergantikan
kenangan indah dan kesediaan saling berbagi apapun
merajut mimpi yang sempat tertunda
teriring canda tawa
menghabiskan waktu penuh harap
agar ku mampu luapkan seluruh emosi jiwa
dan ku cintaimu sampai ruh ini terlepas dari raga
memeluknya erat dan tak akan ku biarkan kau pergi lagi

Memetik Kegelisahan Seorang Penghibur Malam

cantik,,,
pesona indah dewi kayangan
yang terwujud pada kaum hawa
sunggguh sangat pantas mereka dipuja oleh sang adam
bahkan tak sadarkan melenakan mereka yang tak kuat imannya

bukan kebanggaan buat kami atas anugerah paras nan rupawan
ini hanya derita tanpa henti rintih seorang penghibur malam
senyum manisku bukan perlambang kebanggaan
taukah kalian???"lirih desahku pada angin malam"

itu sebuah kesedihan mendalam tentang beban yang aku pikul
dengarkah atas jeritan kegelisahanku akan dosa-dosa
aku gadis penghibur malam
yang melelapkan setiap penjuru mata memandang
dan hadirkan surga dunia bagi mereka pemuja setiaku

aku,,,aku wanita penghibur malam
hidup laksana bintang terang benderang
dengan segala gemerlap cahaya menyinari
mengubur kesulitan menjalani hidup dengan kemewahan
mencoba memendam mata hati
mematikan nurani atas keadaan dan keterpaksaan
yang andai kalian tau mereka menjadi pemberontak paling kejam
menyayat setiap detik nafasku yang kini mulai terengah lelah
meninggalkan luka bernanah yang amis mengharumkan sisa umurku
dalam penderitaan panjang

Imaji Anak Jalanan

Di pagi yang masih sangat buta
Aku dan kawanku harus beranjak dari tahta kebesaran sang malam
Tempat yang Tuhan sempatkan melepas kepenatan sesaat

Dengan membangun imaji indah atas bangkitnya khayal
Dari lukisan perjalanan kami anak jalanan
Kami tak punya kesempatan layaknya para juragan
Ataupun sejenak singgah di singgasana para pejabat yang buta
Akan arti kemanusiaan dan persaudaraan
Apalagi paham arti kejujuran dan keadilan

Atas nama rakyat dan kami anak jalanan mereka meraup ribuan butir nasi
Bahkan lupa akan setetes darah yang jadi hak kami
Tapi kami di karpet kebesaran sepanjang jalan berliku
Dan tajam penuh duri

Kami berjabat tangan dan merangkul pundak kawan
Berjalan menuju gerbang kemerdekaan yang tak mampu mereka miliki
Melangkah pasti dengan riang tanpa beban
Dan membawa pesan kedamaian

Ujung Perjalanan Ini

ketika awal malaikat kecil membuka matanya di dunia ini
suci tanpa dosa dan pembawa kebahagiaan baru
dengan segenap penghormatan terbaik teruntuknya
menyongsong masa depan yang menakjubkan setiap insan

dia akan berjuang menggenggam cita dan cintanya tanpa lelah
dia akan mengukir dongeng tak henti sepanjang hirup nafasnya

bersandar pada kekejaman orang dewasa dan semesta
perlahan membuka tirai yang lama tertimbun kebisingan
kini sentuhan lembut dari penguasa kehidupan
mengokohkan dia menyambut terangnya harum kedamaian